RSS

RINITIS DAN SINUSITIS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Alergi hidung adalah keadaan atopi yang aling sering dijumpai, menyerang 20% dari populasi anak-anak dan dewasa muda di Amerika Utara dan Eropa Barat. Di tempat lain, alergi hidung dan penyakit atopi lainnya kelihatannya lebih rendah, terutama pada negara-negara yang kurang berkembang. Penderita Rhinitis alergika akan mengalami hidung tersumbat berat, sekresi hidung yang berlebihan atau rhinore, dan bersin yang terjadi berulang cepat.
Seperti diketahui, meskipun data-data yang akurat belum ada di Indonesia tetapi rinitis dan sinusitis merupakan masalah kesehatan yang banyak dijumpai pada praktek sehari-hari.
Menurut American Academy of Otolaryngology – Head & Neck Surgery 1996 istilah sinusitis diganti dengan rinosinusitis karena dianggap lebih akurat dengan alasan, secara embriologis mukosa sinus merupakan lanjutan mukosa hidung, sinusitis hampir selalu didahului dengan rinitis, gejala-gejala obstruksi nasi, rinore dan hiposmia dijumpai pada rinitis ataupun sinusitis.
Rinosinusitis didefinisikan sebagai peradangan lapisan mukoperiosteum hidung maupun sinus. Konsep yang telah diketahui bersama yang memegang peranan penting terjadinya rinosinusitis adalah komplek osteomeatal. Dimana inflamasi pada mukosa osteomeatal, terganggunya aerasi-drainase sinus dan kegagalan fungsi transpor mukosiliar merupakan penyebab rinosinusitis. Penyakit ini merupakan penyakit umum yang dapat mengenai anak-anak ataupun dewasa, pada pria dan wanita tidak ada perbedaan yang bermakna.

1.2 Rumusan Masalah
1. Menjelaskan tentang Rinitis.
2. Menjelaskan tentang Sinusitis.

1.3 Tujuan
1. Untuk mempelajari bagaimana penyebaran penyakit rhinitis dan sinusitis.
2. Untuk mempelajari tentang tindakan keperawatan bagi pasien rhinitis dan sinusitis.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 RINITIS
2.1.1. Definisi
Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 )
Rinitis adalah suatu inflamasi membrane mukosa hidung dan mungkin dikelompokkan baik sebagai rhinitis alergik atau non alergik.(Brunner dan Suddarth, 2001).
Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 )
Rhinitis adalah istilah untuk peradangan mukosa. Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua:
Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi.
Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor.

Berdasarkan penyebabnya :
Rhinitis alergi
Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. Merupakan inflamasi mukosa saluran hidung yang disebabkan oleh alergi terhadap partikel, seperti: debu, asap, serbuk/tepung sari yang ada di udara. Meskipun bukan penyakit berbahaya yang mematikan, rinitis alergi harus dianggap penyakit yang serius karena karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Tak hanya aktivitas sehari-hari yang menjadi terganggu, biaya yang akan dikeluarkan untuk mengobatinya pun akan semakin mahal apabila penyakit ini tidak segera diatasi karena telah menjadi kronis.( www. Google.com )
Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan setiap reaksi alergi mukosa hidung, dapat terjadi bertahun-tahun atau musiman. (Dorland,2002 )

2.1.2. Etiologi
Rhinitis non alergik paling sering disebabkan oleh infeksi saluran nafas atas, termasuk rhinitis viral (common cold) dan rhinitis nasal bacterial. Juga terjadi sebagai akibat masuknya benda asing ke dalam hiidung, deformitas structural, neoplasma dan massa, penggunaan kronik dekongestan nasal, penggunaan kontasepsi oral, kokain, dan antihipertensif.
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu:
a. Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya.
b. Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam

Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :
• Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur.
• Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang.
• Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah.
• Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan.

Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar :
a. Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik.
b. Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral, system selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme system tersebut maka berlanjut ke respon tersier.
c. Respon Tersier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan.

2.1.3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala rhinitis :
• Kongesti nasal
• Rabas nasal (purulen dengan rhinitis bakterialis)
• Gatal pada nasal dan bersin-bersin.
• Sakit kepala dapatt saja terjadi terutama jika terdapat juga sinusitis.

Hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan, tergantung pada posisi pasien. Terdapat rinorea yang mukus atau serosa, kadang tidak banyak. Jarang disertai bersin, dan tidak disertai gatal dimata,. Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya.
Berdasarkan gejala yang menonjol, dibedakan atas golongan yang obstruksi dan rinorea. Pemeriksaan rinoskopi anterior menunjukkan gambaran klasik berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua, dapat pula pucat. Permukaanya dapat licin atau berbenjol. Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit, namun pada golongan rinorea, sekret yang ditemukan biasanya serosa dan dalam jumlah banyak.
Keluhan subyektif yang sering ditemukan pada pasien biasanya napas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia), ingus kental hijau, krusta hijau, gangguan penciuman, sakit kepala, dan hidung tersumbat.
Pada penderita THT ditemukan ronnga hidung sangat lapang, kinka inferiordan media hipotrofi atau atrofi, sekret purulen hijau, dan krusta berwarna hijau.


2.1.4. Patofisiologi
Tepung sari yang dihirup, spora jamur, dan antigen hewan di endapkan pada mukosa hidung. Alergen yang larut dalam air berdifusi ke dalam epitel, dan pada individu individu yang kecenderungan atopik secara genetik, memulai produksi imunoglobulin lokal (Ig ) E. Pelepasan mediator sel mast yang baru, dan selanjutnya, penarikan neutrofil, eosinofil, basofil, serta limfosit bertanggung jawab atas terjadinya reaksi awal dan reaksi fase lambat terhadap alergen hirupan. Reaksi ini menghasilkan mukus, edema, radang, gatal, dan vasodilatasi. Peradangan yang lambat dapat turut serta menyebabkan hiperresponsivitas hidung terhadap rangsangan nonspesifik suatu pengaruh persiapan. (Behrman, 2000).

2.1.5. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan rhinitis tergantung pada penyebabnya, yang mungkin diidentifikasi dengan riwayat kesehatan komplit dan menanyakan pasien tentang kemungkinan pemajaan terhadap allergen di rumah, lingkungan atau tempat kerja. Jika gejala menunjukkan rhinitis alergik, mungkin dilakuakan pemeriksaan untuk mengidentifikasi kemungkinan allergen. Terapi obat-obatan termasuk antihistamin, dekongestan, kortikosteroid tropical, dan natrium kromolin. Obat-obat yang diresepkan biasanya digunakan dalam beberapa kombinasi, tergantung pada gejala pasien.

2.1.6. Intervensi Keperawatan
Pasien dengan rhinitis alergik diinstruksikan untuk menghindari allergen atau iritan, seperti debu, asap, bau, tepung, sprei, atau asap tembakau. Untuk kesembuhan yang maksimal pasien diinstruksikan untuk menghembuskan hidung sebelum memberikan obat apapun kedalam rongga hidung.







2.2 SINUSITIS
2.2.1 Definisi
Sinusitis berasal dari akar bahasa Latinnya, akhiran umum dalam kedokteran itis berarti peradangan karena itu sinusitis adalah suatu peradangan sinus paranasal. Di sekitar rongga hidung terdapat empat sinus yaitu sinus maksilaris ( terletak di pipi) , sinus etmoidalis ( kedua mata) , sinus frontalis (terletak di dahi) dan sinus sfenoidalis ( terletak di belakang dahi).
Sinusitis merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus. Sinusitis mencakup proporsi yang tinggi dalam infeksi saluran pernafasan atas.(Brunner dan Suddarth, 2001)
Rinosinusitis didefinisikan sebagai peradangan lapisan mukoperiosteum hidung maupun sinus. Konsep yang telah diketahui bersama yang memegang peranan penting terjadinya rinosinusitis adalah komplek osteomeatal. Dimana inflamasi pada mukosa osteomeatal, terganggunya aerasi-drainase sinus dan kegagalan fungsi transpor mukosiliar merupakan penyebab rinosinusitis. Penyakit ini merupakan penyakit umum yang dapat mengenai anak-anak ataupun dewasa, pada pria dan wanita tidak ada perbedaan yang bermakna.
Untuk mendiagnosis rinosinusitis akut lebih mudah oleh karena adanya tanda dan gejala yang cukup jelas. Rinosinusitis kronik jauh lebih menantang karena sering tersamarkan oleh penyakit yang lain, demikian juga penanganannya. Berbagai perbedaan pendapat masih banyak terjadi mulai dari menentukan diagnosis, sarana diagnosis dan penanganannya, oleh karena itu diperlukan standarisasi yang jelas.

2.2.2 Etiologi
1. Rinogen
Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh :
• Rinitis Akut (influenza)
• Polip, septum deviasi
2. Dentogen
Penjalaran infeksi dari gigi geraham atas dan penyebabnya adalah kuman :
• Streptococcus pneumoniae
• Hamophilus influenza
• Steptococcus viridans
• Staphylococcus aureus
• Branchamella catarhatis

2.2.3 Manifestasi Klinis
Task Force yang dibentuk oleh American Academy of Otolaryngology (AAOA) dan American Rhinologic Society (ARS) membuat klasifikasi rinosinusitis pada dewasa berdasar kronologi penyakit. :
Rinosinusitis akut (RSA) bila gejala berlangsung sampai dengan 4 minggu, rinosinusitis akut berulang (rekuren) gejala sama dengan yang akut tetapi akan memburuk pada hari ke 5 atau kambuh setelah mereda. Rinosinusitis subakut gejala berlangsung lebih dari 4 minggu, merupakan kelanjutan RSA yang tidak menyembuh tetapi gejala yang tampak lebih ringan. Rinosinusitis kronik bila gejala telah berlangsung lebih dari 12 minggu. Rinosinusitis kronik eksaserbasi akut adalah keadaan dimana terjadi serangan/infeksi akut pada infeksi kronik.
Berdasarkan kualitas gejala RSA dapat dibagi : ringan, sedang dan berat. Gejala RSA ringan : adanya rinore, hidung buntu, batuk-batuk, sakit kepala/wajah tergantung lokasi sinus yang terkena. Sakit kepala daerah dahi menunjukkan adanya infeksi daerah sinus frontal, rasa sakit daerah rahang atas, gigi dan pipi menunjukkan sinusitis maksila, sedangkan etmoiditis menyebabkan odem di sekitar mata dan nyeri diantara dua mata dengan atau tanpa disentuh, pada sfenoid lokasi nyeri di puncak kepala dan sering disertai sakit telinga, sakit leher, demam. Pada keadaan yang berat gejala seperti tersebut di atas tetapi lebih berat (rinore purulen, hidung buntu, sakit kepala/wajah berat tergantung lokasi, odem periorbita dan demam tinggi) (Brook, 2001).
Kriteria gejala RSA menurut AAOA dan ARS
• Gejala mayor : sakit daerah muka, hidung buntu, ingus purulen/post nasal drip, gangguan penciuman, demam.
• Gejala minor : batuk-batuk, lendir ditenggorok, nyeri kepala, nyeri geraham, halitosis.
RSA dicurigai bila didapatkan 2 gejala mayor atau lebih , atau 1 gejala mayor dan 2 minor.

Menurut Brunner dan Suddarth, 2001. Sinusitis dibagi menjadi 2, yaitu Sinusitis akut dan Sinusitis Kronis.
Sinusitis Akut :
Gejala Sinusitis akut mencakup tekanan, nyeri d atas area sinus dan area nasal yang purulen. Sinusitis akut terjadi akibat infeksi traktus respiratorius atas, terutama infeksi firus atau eksaserbasi rhinitis alergika.
Pengkajian riwayat kesehatan dan diagnostic yang cermat, termasuk pemeriksaan rontgen sinus, dilakukan untuk menyingkirkan kelainan lain yang bersifat sistemik atau setempat, seperti tumor, fistula, dan alergi. Kompilkasi sinusitis walaupun tidak umum adalah termasuk selulitis orbital parah, abses subperiosteal, thrombosis sinus karvenosus, meningitis dan bases otak.

Sinositis Kronis :
Biasanya disebabkan oleh obstruksi hidung kronik akibat rabas dan edema membrane mukosa hidung. Pasien mengalami batuk karena tetesan konstan rabas kental kearah nasofaring, dan sakit kepala kronik pada daerah periorbital dan nyeri wajah, yang paling menonjol pada saat bangun tidur pada pagi hari.

2.2.4 Patofisiologi
Rinosinusitis pada umumnya didahului dari infeksi saluran nafas atas akut yang disebabkan virus, biasanya infeksi bakteri merupakan lanjutan infeksi virus. Infeksi virus tidak menunjukkan gejala sinusitis, tetapi menyebabkan inflamasi pada mukosa sinus, dan akan membaik tanpa terapi setelah 2 minggu.
Infeksi tersebut menyebabkan inflamasi mukosa termasuk mukosa komplek osteo meatal sehingga terjadi obstruksi ostium sinus yang menyebabkan gangguan aerasi dan drainase sinus. Keadaan ini menyebabkan perubahan tekanan O2 didalamnya, terjadi tekanan negatif, permeabilitas kapiler meningkat, sekresi kelenjar meningkat dan terjadi transudasi yang menyebabkan fungsi silia terganggu, retensi sekret yang terjadi merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman.
Virus yang sering menjadi penyebab adalah virus influenza, corona virus dan rinovirus. Seringkali infeksi virus ini diikuti infeksi kuman terutama kuman kokus (steptokokus pneumonia, stapilokokus aureus) dan Haemophilus Influenza. Kadang infeksi jamur dapat menyebabkan rinosinusitis terutama pada orang-orang dengan imunodefisiensi.
Faktor predisposisi lokal yang harus dicermati adalah :
1. Adanya septum deviasi (sekat hidung yang bengkok)
2. Konka bulosa
3. Massa (tumor)
4. Adanya gangguan fungsi silia
5. Pemasangan tampon yang lama.

2.2.5 Komplikasi
Meskipun komplikasi rinosinusitis sudah jarang dijumpai pada era antibiotik sekarang ini, komplikasi serius masih dapat terjadi. Yang harus diingat komplikasi rinosinusitis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila tidak mendapatkan penanganan yang baik dan adekuat. Letak sinus paranasal yang berdekatan dengan mata dan kranial sangat berperan pada infeksi rinosinusitis akut ataupun kronik.
Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab terjadinya komplikasi antara lain karena :
1. Terapi yang tidak adekuat
2. Daya tahan tubuh yang rendah
3. Virulensi kuman dan penanganan tindakan operatif (yang seharusnya) terlambat dilakukan.

Komplikasi ke mata
Secara anatomi perbatasan daerah mata dan sinus sangat tipis : batas medial sinus etmoid dan sfenoid, batas superior sinus frontal dan batas inferior sinus maksila. Rinosinusitis merupakan salah satu penyebab utama infeksi orbita. Pada era pre antibiotik hampir 50 % terjadi komplikasi ke mata, 17 % berlanjut ke meningen dan 20 % terjadi kebutaan.
Komplikasi ke orbita dapat terjadi pada segala usia, tetapi pada anak-nak lebih sering. Intervensi tindakan operatif lebih banyak dilakukan pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa. Etmoiditis sering menimbulkan komplikasi ke orbita, diikuti sinusitis frontal dan maksila.
Komplikasi dapat melalui 2 jalur :
1. Direk/langsung : melalui dehisensi konginetal ataupun adanya erosi pada tulang barier terutama lamina papirasea.
2. Retrograde tromboplebitis : melalui anyaman pembuluh darah yang berhubungan langsung antara wajah, rongga hidung, sinus dan orbita.

Klasifikasi ada 5 kategori (Chandler at al) :
1. Selilitis periorbita : gejala yang tampak adanya odem dan hiperemis daerah periorbita.
2. Selulitis orbita : tampak adanya proptosis, kemosis, penurunan gerak ekstra okuler.
3. Abses subperiosteal : tertimbunnya pus diantara periorbita dan dinding tulang orbita. Gejala proptosis lebih jelas dan penurunan gerak.
4. Abses orbita : pus tertimbun di dalam orbita, gejalnya optalmoplegi, proptosis dan kebutaan.
5. Trombosis sinus kavernosus : sama dengan gejala nomor 4 disertai tanda-tanda meningitis.

Komplikasi intrakranial
Penyebab tersering komplikasi intrakranial adalah sinusitis frontal, diikuti sinusitis etmoid, sfenoid dan maksila.
Komplikasi intrakranial dapat terjadi pada infeksi sinus yang akut, ekaserbasi akut ataupun kronik. Komplikasi ini lebih sering pada laki-laki dewasa diduga ada faktor predileksi yang berhubungan dengan pertumbuhan tulang frontal dan meluasnya sistem anyaman pembuluh darah yang terbentu.
Beberapa jalur untuk terjadinya infeksi ini antara lain :
1. Direk melalui jalan alami
2. Melalui anyaman pembuluh darah.

Beberapa tahap komplikasi intrakranial yang dikenal :
1. Osteomielitis : penyebaran infeksi melalui anyaman pembuluh darah ke tulang kranium menyebabkan osteitis yang akan mengakibatkan erosi pada bagian anterior tulang frontal. Gejala tampak odem yang terbatas pada dahi di bawah kulit dan penimbunan pus di superiosteum.
2. Epidural abses terdapat timbunan pus diantara duramater dan ruang kranium yang sering tampak pada tulang frontal dimana duramater melekat longgar pada tulang dahi. Gejala sangat ringan, tanpa ada gangguan neurologi, ada nyeri kepala yang makin lama dirasakan makin berat dan sedikit demam.
3. Subdural empiema, terjadi karena retrograde tromboplebitis ataupun penyebaran langsung dari abses epidural. Gejala nyeri kepala hebat, ada tanda-tanda iskemik/infark kortek seperti hemiparesis, hemiplegi, paralisis n.Facialis, kejang, peningkatan tekanan intrakranial, demam tinggi, lekositosis dan akhirnya kesadaran menurun.
4. Abses otak. Lokasi di daerah frontal paling sering disebabkan sinusitis frontal dengan penyebaran retrograde, septik emboli dari anyaman pembuluh darah. Bila abses timbul perlahan, gejala neurologi tak jelas tampak, bila odem terjadi di sekitar otak, tekanan intrakranial akan meningkat, gejala-gejala neurologi jelas tampak, ancaman kematian segera terjadi bila abses ruptur.
5. Meningitis. Sinusitis frontal jarang menyebabkan meningitis tetapi seringkali karena infeksi sekunder dari sinus etmoid dan sfenoid. Gejala-gejala tampak jelas : adanya demam, sakit kepala, kejang, diikuti kesadaran menurun sampai koma.

2.2.6 Penatalaksanaan Medis
Tujuan pengobatan sinusitis akut adalah untuk mengontrol infeksi, memulihkan kondisi mukosa nasal, dan menghilangkan nyeri. Antibiotik pilihan untuk kondisi ini adalah amoksilin dan ampisilin.
Sebagian pasien dengan sinusitis kronis parah mendapat kesembuhan dengan cara pindah ke daerah dengan iklim yang lebih kering.

2.2.7 Intervensi Keperawatan
Pendidikan pasien merupakan aspek penting dari asuhan keperawatan untuk pasien dengan sinusitis akut dan kronis. Perawat dapat menginstruksikan pasien tentang metode untuk meningkatkan drainase seperti inhalasi uap (mandi uap, mandi hangat, mandi sauna), meningkatkan masukan cairan dan memberikan kompres hangat setempat.(handuk basah hangat). Perawat mengajarkan pasien tentang tanda-tanda dini infeksi sinus dan menganjurkan tindakan pencegahan.

Pencegahan
• Hindari allergen yang menderita alergi
• Pertahankan kesehatan umum sehingga daya tahan tubuh alamiah tidak menurun.
- Makan diet yang tepat
- Olahraga
- Istirahat yang cukup
• Hindari orang yang menderita infeksi saluran nafas atas.
• Cari pertolongan medis jika gejala pernafasan atas menetap lebih dari 7-10 hari.
• Ingatkan pemberian perawat primer jika nyeri pada area sinus menetap atau jika terdapat rabas nasal dan terdapat perubahan warna dan bau busuk.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Rinitis adalah suatu inflamasi membrane mukosa hidung dan mungkin dikelompokkan baik sebagai rhinitis alergik atau non alergik.(Brunner dan Suddarth, 2001). Rhinitis paling sering disebabkan oleh infeksi saluran nafas atas, termasuk rhinitis viral (common cold) dan rhinitis nasal bacterial. Juga terjadi sebagai akibat masuknya benda asing ke dalam hidung. Pasien dengan rhinitis diinstruksikan untuk menghindari allergen atau iritan, seperti debu, asap, bau, tepung, sprei, atau asap tembakau. Untuk kesembuhan yang maksimal pasien diinstruksikan untuk menghembuskan hidung sebelum memberikan obat apapun kedalam rongga hidung.
Sinusitis merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus. Sinusitis mencakup proporsi yang tinggi dalam infeksi saluran pernafasan atas.(Brunner dan Suddarth, 2001). Sinusitis biasanya disebabkan oleh Rinitis Akut (influenza). polip, septum deviasi dan oleh kuman Streptococcus pneumonia, Hamophilus influenza, Steptococcus viridians, Staphylococcus aureus, Branchamella catarhatis. Pada pasien sinusitis, seorang perawat dapat menginstruksikan pasien tentang metode untuk meningkatkan drainase seperti inhalasi uap (mandi uap, mandi hangat, mandi sauna), meningkatkan masukan cairan dan memberikan kompres hangat setempat.(handuk basah hangat). Perawat mengajarkan pasien tentang tanda-tanda dini infeksi sinus dan menganjurkan tindakan pencegahan.



DAFTAR PUSTAKA


KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN, Media Aesculapius : FKUI, 2001.

Pusat Data & Informasi PERSI, ALERGI RINITIS, 2009.

Suddarth & Brunner, KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH, Jakarta : EGC, 2001.

0 komentar:

Copyright 2009 RYRI LUMOET. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy | Blogger Templates