RSS

MY FAMILY



This is My Family



My Parents



Ini adek q tersayank







Waktu pernikahan sepupu Q




TUBERCULOSIS PARU





A.

TUBERCULOSIS (TBC PARU)

PENGERTIAN

Ø Penyakit Tuberkulosis: adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. (Prof. Dr. Sulianti Saroso)

Ø Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis, yakni kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau di berbagai organ tubuh hidup lainnya yang mempinyai tekanan parsial oksigen yang tinggi. (Fitriani)

Ø Tuberkulosis adalah penyakit infeksi akibat infeksi kuman Mycobacterium yang bersifat sistemis (menyeluruh) sehingga dapat mengenai hampir seluruh organ tubuh, dengan lokasi terbanyak di paru-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi yang pertama kali terjadi. (TAKA)

Ø TBC atau tuberculous adalah penyakit infeksi bakteri yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa, yang dapat menyerang paru-paru atau di luar paru-paru, seperti meningitis (radang otak), TBC kulit, TBC usus, TBC ginjal, Synovitis tb (sendi) dan Spondylitis tb (TBC tulang belakang). (Yasi Setiawan)

Ø Penyakit TBC adalah merupakan suatu penyakit yang tergolong dalam infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa

Ø Tuberculosis paru adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi, diantaranya adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam derajad rendah, nyeri dada dan batuk darah. (Mansjoer, Arief, 473:2001)

Ø TBC adalah penyakit akibat infeksi kuman “Mycobakterium Tuberculosis Sistem” sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak diparu yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. (Mansjoer, Arief, 459:2001)

Ø TBC adalah penyakit TB paru atau disebut penyakit batuk darah yang disebabkan oleh kuman TBC yaitu “Mycobakterium Tuberculosis” (Depkes,2000)

Ø Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang dapat diobati, yang disebabkan oleh bakteri (kuman).(HM Bambang Irawan)

Ø Tuberculosis (TBC paru-paru) adalah penyakit infeksi menular yang menyebabkan oleh mycobacterium tuberculosis yang bersifat sistemis, yaitu kuman aeroh yang dapat hidup terutama di paru-paru sebagai lokasi infeksi yang pertama terjadi atau diberbagai organ tubuh hidup lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen yang tinggi.(Unik Andrianingsih)

B. EPIDEMIOLOGI

Ø Agent : penyakit ini adalah mycobacterium tuberculosis yang terbentuk batang dan tahan asam. Ukurannya 0,3x2 sampai 4 µm. Penularan dapat terjdi dari orang ke orang dengan menyebabkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (tetesan/percikan dahak). Penularan jarang terjadi dengan kontak langsung atau barang-barang yang terkontaminasi, orang dewasa yang terinfeksi TBC dapat menularkan mycobacterium tubrculosis ke anak.

Ø Orang : Penyakit ini bisa saja mengenai semua orang dan tidak spesifik pada jenis kelamin tertentu, jadi penyakit ini bisa menyerang pria, wanita, tua, muda, kaya, dan miskin. Serta dimana saja. TBC paru ini cenderung mengenai usia produktif yaitu (15-40) tahun dan diatas 25 tahun. Factor resiko yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi TB adalah daya tahan tubuh yang rendah dan diantaranya dikarenakan oleh gizi buruk atau HIV/AIDS.

Ø Tempat : TBC paru terutama menonjol di populasi yang mengalami stress, nutrisi jelek, lingkungan yang padat penuh sesak dan kumuh, perawatan kesehatan yang kurang, sirkulasi udara yang kurang baik dan perpindahan penduduk. Infeksi pada usia muda lebih banyak terjadi di kota dari pada di desa. Penyakit terjangkit hanya pada sebagian individu yang terinfeksi. Di Amerika Serikat, yang mempunyai resiko tinggi adalah kaum minoritas, kebanyakn orang Afrika-Amerika

Ø Perilaku : Penyakit ini juga bisa mengenai orang yang terinfeksi HIV, DM, hubungan intim dengan pasien yang mempunyai spuntum positive,pecandu alkohol,dll.

C. AGENT OF DISEASE

Agent penyakit ini adalah mycobacterium tuberculosis yang berbentuk batang dan tahan asam pada pewarnaan dan juga disebut pula sebagai basil tahan asam (BTA). Ukurannya 0,3X2 sampai 4 cm. Mycobacterium tuberculosis tidakmemiliki kapsul, tumbuh lambat pada pembenihan, sehingga memerlukan waktu antara 4-6 minggu. Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab, mati pada air mendidih. Dalam jaringan tubuh kuman dapat dormant, tertidur selama beberapa tahun. Micobacterium Tuberulosis merupakan patogen manusia yang sangat penting.

Morfologi dan Identifikasi mycobacterium tuberculosis :

  1. Tipikal Organisne : Dalam jaringan, basil tuberkel adalah bakteri batang lurus dengn ukuran sekitar 0,4 - 3µm.
  2. Biakan : Media unuk membiakkan micobakeria adlah dengan media agar semisinteik, media telur inspisasi, media kaldu.
  3. Karakteristik Pertumbuhan : Mikobacteria merupakan aerobik obligat yang memperoleh energi dari oksidasi beberapa senyawa karbon sederhana.
  4. Reaksi terhadap agen fisik dan kimia : cenderung resisten terhada agen kimia dari pada bakeri lain karena sifat hidrofobik permukaan sel dan perumbuhannya.
  5. Variasi : dapat terjadi dalam koloni, pigmentasi, virulensi, temperatur perumbuhan yang optimal dan beberapa tanda pertumbuhan atau seluler lain.
  6. Patogenesis Mikobacteria : Kemempuan Mikobacteria untuk menyebabkan lesi dalam spesies.

D. GEJALA KLINIS DARI PENYAKIT

Gejala tuberculosis dibagi menjadi 2 yaitu gejala umum dan no spesifik dan gejala spesifik sesuai dengan organ yang terkena.:

a. Gejala umum/non spesifik, yaitu:

§ Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau pada anak berat badan tidak naik dalam 1 bulan dengan penanganan gizi.

§ Anoreksia dengan gagal tumbuh dan berat tidak naik

§ Demam lama/berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifoid, malang atau infeksi saluran nafas akut), dapat keringat malam tanpa kegiatan.

§ Pembesaran kelenjar limfe superficial multiple dan tidak nyeri

§ Batuk lebih dari 30 hari dengan atau tanpa dahak/ juga berupa batuk dara.

§ Sesak nafas dan rasa neri dada

§ Rasa kurang enak badan (malaise)

§ Diare persisten tidak sembuh dengan pengobatan diare

b. Gejala spesifik seusia organ yang terkena, yaitu :

§ TBC kulit/ skotuloderma

§ TBC tulang dan sendi, meliputi

Ø Tulang punggung (spondilitis): gibbus/bangkuk.

Ø Tulang panggul (koksitis) : pincang

Ø Tulang lutut pincang dan bengkok

Ø Tulang kaki dan tangan, dengan gejala pembengkakan sendi dan pincang

§ TBC otak dan syarat : meningitis dengan gejala iritabel, kaku kuduk muntah dan kesadaran menurun.

§ TBC mata: conjungtivitas, tuberkelkhoroid, dan lain-lain.

Pada anak-anak primary pulmonary tuberculosis (infeksi pertama yang disebabkan oleh bakteri tuberculosis) tidak menampakkan gejalanyameskipun dengan pemeriksaan X-ray. Jarang terlihat adanya pembesaran getah bening dan batuk-batuk.

E. PROSES TERJADINYA PENYAKIT

1. Host

Hostnya adalah manusia yang pertama kali terkena kuman TB, dan bisa juga mengenai semua orang dan tidak spesifik pada jenis kelamin tertentu. Kecenderungan penyakit TB mengenai usia produktif yaitu diatas 25 tahun.` Penyakit ini juga bisa mengenai orang yang terinfeksi HIV, DM, hubungan intim dengan pasien yang mempunyai spuntum positive,pecandu alkohol,dll.

2. Agent

Agent dari penyakit ini adalah adalah mycobacterium tuberculosis yang berbentuk batang dan tahan asam. Ukurannya 0,3x2 sampai 4 µm. . Penularan dapat terjdi dari orang ke orang dengan menyebabkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (tetesan/percikan dahak). Penularan jarang terjadi dengan kontak langsung atau barang-barang yang terkontaminasi, orang dewasa yang terinfeksi TBC dapat menularkan mycobacterium tubrculosis ke anak.

3. Environment

Factor lingkungan yang berpengaruh pada penyakit seperti ini adalah sirkulasi udara yang kurang baik, permukiman yang padat dan kumuh, Keadaan social ekonomi yang rendah juga mempengaruhi pada budaya tertentu, penyakit TBC paru dianggap disebabkan oleh keracunan zat-zat tertentu, sehingga penderita tidak diobati/diperlakukan dengan selayaknya.

F. CARA PENULARAN

Berdasarkan penularannya, Tuberculosis dapat dibagi menjadi 3 bentuk :

Ø Tuberculosis Primer

Terdapat pada anak-anak. Setelah usia 6-8 minggu kemudian mulai dibentuk mekanisme imunitas dalam tubuh, sehingga tes tuberculin menjadi positif.

Ø Reaktifasi dari tuberculosis primer

10% dari infeksi tuberculosis primer akan mengalami reaktifasi, terutama setelah 2 tahun dari infeksi primer.

Ø Tipe reinfeksi

Dapat terjadi apabila terdapat penurunan dari imunitas tubuh atau terjadi penularan secara terus menerus oleh kuman tersebut.

Penularan penyakit TBC adalah melalui udara yang tercemar oleh Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan/dikeluarkan oleh si penderita TBC saat batuk, dimana pada anak-anak umumnya sumber infeksi adalah berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Ada tiga pintu masuk Mikroorganismre Mycobakterium Tuberkulosis yaitu saluran pernafasan, saluran cerna, dan luka terbuka pada kulit. Tetapi Kebanyakan infeksi TBC melalui pintu saluran pernafasan. Mula-mula basil TBC yang dapat terbang dari penderita yang sedang berbicara, bersin atau bernmyanyi terhisap oleh orang lain. Kemudian basil – basil tersebut langsung masuk melalui jalan nafas dan menempel ada permukaan alveolar dari parenkim pada bagian bawah lobus atau bagian atas lobus bawah. Kemudian leukosit dari tubuh memakan bakteri tersebut, tetapi bakteri tersebut tidak mati dan infeksi menyebar melalui saluran getah bening, dan terbentuklah suatu infeksi Tuberkulosis primer yaitu suatu peradangan yang terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mycobakteriun tuberculosa.

Masuknya Mikobakterium tuberkulosa kedalam organ paru menyebabkan infeksi pada paru-paru, dimana segeralah terjadi pertumbuhan koloni bakteri yang berbentuk bulat (globular). Dengan reaksi imunologis, sel-sel pada dinding paru berusaha menghambat bakteri TBC ini melalui mekanisme alamianya membentuk jaringan parut. Akibatnya bakteri TBC tersebut akan berdiam/istirahat (dormant) seperti yang tampak sebagai tuberkel pada pemeriksaan X-ray atau photo rontgen.

Seseorang dengan kondisi daya tahan tubuh (Imun) yang baik, bentuk tuberkel ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Lain hal pada orang yang memilki sistem kekebelan tubuh rendah atau kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Sehingga tuberkel yang banyak ini berkumpul membentuk sebuah ruang didalam rongga paru, Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (riak/dahak). Maka orang yang rongga parunya memproduksi sputum dan didapati mikroba tuberkulosa disebut sedang mengalami pertumbuhan tuberkel dan positif terinfeksi TBC

Dalam perjalanan penyakit yang lebih lanjut, sebagian besar penderita TB paru primer (90%) akan sembuh sendiri dari 10% akan mengalami penyebaran eksogen yaitu karena infeksi baru dari luar dan proses ini disebut TBC Paru Post Primer. TBC post Primer kerusakan jaringan lebih cepat, karena sudah ada kekebalan terhadap infeksi basilTBC. Fokus infeksi jaringan paru yang disebut kavitas. Bila kavitas tersebut lama-lama diliputi oleh anyaman pembuluh bakteri, dan bila pecah dapat mengakibatkan kematian, karena saluran nafas tersumbat oleh bekuan darah. Bila daya tahan tubuh melemah maka basil akan menyebar ke paru lain, bahkan menyebar melalui aliran limfe dan darah ke organ lain.

G. PROSES PERJALANAN PENYAKIT ALAMIAH

1. PREPATOGENESIS

Kuman mycobacterium tuberculosis ini masuk ketubuh seseorang melalui inhalasi droplet yang mengandung tuberkel-tuberkel dari orang yang terinfeksi. Pada awalnya individu ini tidak akan menampakkan gejala sehingga hanya bisa diketahui dari pemeriksaan lanjutan.

2. PATOGENESIS

Proses perjalanan penyakit ini didalam tubuh dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu tingkat virulensi organisme, perkembangan sensitifitas dan imunitas atau kekebalan terhadap organisme serta patogenesis dari nekrosis kaseosa.

Setelah kuman ini masuk kedalam tubuh akan terjadi reaksi peradangan, sehingga merangsang rweaksi antigen antibody. Peradangan ini bisa sembuh sendiri atau semakin berkembang biak didalam sel yang akan menyebabkan timbulnya jaringan parut dan juga nekrosis.

3. TAHAP PENYAKIT DINI

Infeksi terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.

4. TAHAP PENYAKIT LANJUT

Setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya. Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit.
Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik.

5. TAHAP AKHIR PENYAKIT

Dalam perjalanan penyakit yang lebih lanjut, sebagian besar penderita TB paru primer (90%) akan sembuh sendiri dari 10% akan mengalami penyebaran eksogen yaitu karena infeksi baru dari luar dan proses ini disebut TBC Paru Post Primer. TBC post Primer kerusakan jaringan lebih cepat, karena sudah ada kekebalan terhadap infeksi basil TBC. Jika tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50 % dari penderita TB akan meninggal, 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25 % sebagai kasus Kronik yang tetap menular (WHO 1996).

H. UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT

1. Primer :

Ø Healthy Promotion :

§ Pengadaan rumah sehat dengan ventilasi yang memadai.

§ Perilaku hidup bersih dan sehat.

Ø Preventif (spesific) :

§ Perbaikan gizi

§ Menutup mulut bila batuk serta tidak mengeluarkan dehak di sembarang tempat dan menyediakan tempat ludah yang di beri lisol.

§ Vaksin BCG yang sebaiknya diberikan sejak masih kecil

§ Terapi TBC :

WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TBC jangka pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy). Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan pengawasan langsung.

§ Imunisasi :

Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit TBC. Vaksin TBC, yang dikenal dengan nama BCG terbuat dari bakteri M tuberculosis strain Bacillus Calmette-Guerin (BCG). Basil tuberkel avirulen yang hidup beragam, khususnya BCG, telah dimanfaatkan unuk menimbulkan resistensi tertentu pada pemaparan yang berakibat terhadap infeksi.

2. Sekunder :

Ø Diagnosis :

Penemuan Penderita Tuberkulosis Pada Orang Dewasa. Penemuan penderita TB dilakukan secara Pasif, artinya penjaringan tersangka penderita dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan. Penemuan secara pasif tersebut didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka penderita. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif.

Ø Pengobatan :

Pengobatan yang tepat dan efektif terhdap pasien tuberkulosis aktif dan tindak lanjut terhadap kontaknya dengan tes tuberkulin, sinar-X, dan pengobatan yang tepat adalah dengn cara pengawasan terhadap tuberkulosis yang muncul kembali. Pemberian obat pada seorang yang positif tuberkulin asimtomatik harus mendapatkan obat immunosuppresif untuk mengurangi reaktivasi infeksi.

3. Tersier :

§ Pemerintah Indonesia mulai mengadopsi strategi DOTS (Directly Observed Tratment Short-Course) untuk menanggulangi TBC.

§ Obat di Puskesmas diberikan dalam bentuk Kombipak.

§ Dibentuknya GERDUNAS-TBC (Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TBC).

MALANG ON THE WEEKEND


Sebagai dosen yang baik, sabar ya.....


  • Gi phose phek....

Pren Q S1Kep



KAKEN MODEL...
GAYA THOK....


Anak" ne ngapain ce...


Riska, Devi, Leni, Bagus, Zizah, Yahya, n Ichal...
Ngapain Ya mereka...



Ne Siti Rotul GI ma yayankx Romantis Banget zoooo.....




Devi ma Putri cute Abisy dech....

ne pren Q d' MANELA



Zizah, Izah, Hajar, Kiki
Dini, Iir si pesex
Heaven boook...






MAKALAH KONSEP DIRI INFANT


Ne Makalah Terbaru Q bersama Siti Rotul...

Tentang Konsep Diri Infant Lo....


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa kecil atau masa pertumbuhan adalah dari umur 1 bulan hingga 1 tahun. Interaksi antara bayi dan lingkungan sangatlah besar dan sangat bermakna. Bayi tertawa dan tengkurap dalam menerima respon untuk berinteraksi dengan lingkungan social mereka dan menerima respon yang besar, kemudian ketika mereka hanya tersenyum dalam menerima respon pelukan. Selam fase pertumbuhan dan perkembangan perawat dapat memeriksa potensi adaptif dari anak – anak karena perubahan kualitatif dan kuantitatif yang terjadi denga cepat.

Anak yang memiliki konsep diri positif, dapat memandang, menilai dan memiliki persepsi yang positif mengenai dirinya. Konsep diri yang positif menurut Millie Ferrer dan Anne Fugate dalam karya ilmiahnya, “Helping Your School Age Child Develop a Healthy Self Concept”, formulasi dari perasaan nyaman terhadap diri sendiri, rasa diterima oleh lingkungan sekitar, dan rasa mampu melakukan sesuatu hal dengan baik. “Dia melihat dirinya sebagai orang yang dicintai dan berharga.

1.2 Tujuan

Ø Untuk mempelajari konsep diri tentang infant

Ø Untuk mengetahui persepsi perawat terhadap perawatan infant

Ø Untuk memenuhi tugas KDM yang telah diberikan.

BAB II

PEMBAHASAN

Pada dasarnya terdapat lima komponen konsep diri , yaitu : gambaran diri , ideal diri , harga diri , peran diri dan , identitasa diri . Pada tahap infant hanya menggunakan komponen konsep diri meliputi gambaran diri dan ideal diri . Dan , dapat dijelaskan dalam tiap jenis perkembangannya.

2.1. Macam – macam perkembangan

Perkembangan Emosional

Kepercayaan dasar , urutan pertama dalam psikososialnya Erikson , berkembang ketika bayi belajar bahwa kebutuhan mendesaknya dipenuhi secara terus – menerus. Kepentingan emiosional dalam setiap pengalaman tergantung pada perangai anak itu sendiri dan juga respon orang tua . bayi diberi makan sesuai “kebutuhannya” secara konsisten , pengalaman ini menghubungkan dengan rasa tidak nyaman mereka , kedatangan orang tuan dan perasaan lega dari rasa lapar . Hampir semua bayi yang diberi makanan sesuai dengan jadwal dengan capat mengadaptasi siklus rasa laparnya dengan jadwal yang telah ditetapkan . Bayi – bayi ini sering menunjukkan peningkatan sifat , lekas marah , dan ketidakstabilan psikologis dan juga masalah tingkah laku di kemudian hari. ( Prof.DR.dr.A.Samik Wahab,SpA(k)1996:49)

Perkembangan Motorik

Ketika bayi neonatus dalam keadaan suspensi ventral dengan tangan dibawah abdomen , hampir tidak terdapat pengendalian kepala . Pada umuru sekitar 6 minggu ia mampu untuk mengangkat kepala untuk seketika dalam bidang yang sama dengan tubuh lainnya . Pada umur 8 minggi ia dapat mempertahankan posisi ini dan pada umur 12 minggu ia dapat mempertahankan kepalanya diluar bidang tubuh lainnya.

Pada usia sekitar 2 sampai 3 bulan anggota gerak dapat digerakkan dan gerakannya menjadi lebih lancar dan kontinu . Tangan terbuka lebih longgar . Ketika berbaring dalam possisi tengkurap dia dapat mengankat dagunya dari atas tempat tidur. Pada minggu ke 8 sampai 12 ia menahan dagu dan bahunya diatasa tempat tidur dengan tungkai sepenuhnya terlentang .Ketika ditahan dalam posisi duduk ia menahan punggung dalam keadaan lurus , kecuali pada daerah lumbar. Ketika kakinya ditegakkan pada permukaan yang keras ia melongsor pada lututnya.

Antara umur 12 sampai 24 minggu ia mampu untutk menganggkat kapala dari bantal , berangsur – angsur menopang kepalanya . Ia harus mampu duduk dengan topangan guling pada tempat tidur kecil atau kereta anak – anak dan menggerakkan kepalanya dari sisi ke sisi.(Rosa M. Sacharin.1996:15)

Perkembangan Bicara

Walaupun anak belum mencapai ulang tahun pertama , mereka mengetahui betapa pentingnya kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Pada waktu mereka menemukan bahwa upaya awal merekauntuk berkomunikasi dengan menangis atau denga menggunakan bahasa isyarat tidak selalu dipahami, mereka memiliki motivasi yang kuat untuk belajar bicara segera setalah mereka siap melakukan hal itu , mereka berusaha belajar bicara karena meraka telah mengetahui bahwa bicara merupakan alat komunikasi yang lebih baik ketimbang tangisan , atau isyarat prabicara ang telah mereka gunakan sebelumnya.

Sebelum mereka mempelajari kata – kata yang cukup untuk digunakan sebagai bentuk komunikasi , mereka menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara, yaitu :

1. Tangisan

Dalam hari – hari awaql kehidupan pasca lahir ,sebagian beras suara bayi adalah menangis.Melalui tangisan bayi memberitahukan kebutuhannya kepada seseorang untuk menghilangkan rasa : lapar, pedih, lelah, dan keadaan tubuh yang tidak menyenangkan lainnya untuk keinginanya diperhatikan.

2. Ocehan dan Celoteh

Ocehan ; bunyi eksplosif awal disebabkan oleh perubahan gerakan mekanisme suara. Celotehan : jumlah bunyi yang dikeluarkan bayi meningkat secara perlahan. Karena meningkatnya kemampuannya mengendalikan arus udara yang melewati pita suara , bayi dapat mengucapkan bunyi seperti yang diinginkan . Ole karena itu, celotehan adalah bentuk senam suara , yang timbul secara spontan, tetapi tidak ada arti atau asosiasi yang sesungguhnya bagi bayi.

3. Isyarat

Isyarat adalah gerakan anggota badan yang berfungsi sebagai pengganti atau pelengkap bicara. Sebagai pengganti bicara, isyarat menggantikan kata atau gagasan yang disampaikan kepada orang lain melalui gerakan badan atau bagian tubuh tertentu. Sebagai pelengkap bicara, isyarat menekankan makna kata yang diucapkan.

4. Ungkapan Emosional

Adalah bentuk komunikasi prabicara yang berguna karena alas an kedua, yakni apabila digunakan orang lain mudah ditafsirkan bayi. Bayi dengan segara mengetahui adanya perubahan ekspresi wajah dan tekanan suara orang lain.(Elizabeth B. Hurlock.1978 : 177-183)

Perkembangan Kognitif

Bayi belajar dari banyak pengalaman dan manipulasi lingkungan. Perkembangan keterampilan motorik dan peningkata perubahan pada lingkungan bayi dan, dengan perkmbangan visual/penglihatan dan kemampuan mendengar,menambah perkembanga kognitif. Dari alasan ini Piaget (1952) telah menyebutkan bahwa periode sensorimotorik merupakan awal dasar dari perkembangan kognitif, yang berkelanjutan hingga usia 2 tahun.

Kemampuan berbicara adalah aspek yang sangat penting dari pengamatan yang berkembang selama 1 tahun. Bayi berprilaku dari menangis dan tertawa untuk menirukan suara, memahami arti dari perintah singkat dan mengulang kata yang mereka mengerti seperti halnya menyubutkan 2 – 3 kata termasuk juga kata da-da, ma-ma, dll.

Perawat membutuhkan kesempatan untuk menggunakan dan mengembangkan perasaan mereka. Perawat harus mengevaluasi kelayakan dan mencukupi kesempatan itu.

Perkembangan Psikososial

Selama satu tahun, bayi mulai membedakan dirinya dari yang lain seperti mampu menjadi dirinya sendiri. Awalnya, bayi tidak tahu batas dirinya, tapi seluruh pengalamanya diulang dari lingkungan, mereka belajar dimana akhir dari dirinya dan dimulainya dunia luar.

Bayi mempercayakan pada orangtua mereka untuk perawatan fisik dan emosional. Meskipun bayi memiliki kemampuan yang tidak nyata untuk beralasan, mereka yang tiba – tiba merasakan emosi da tingkah laku orang disekitar mereka.

Tahap percaya versus tidak percaya merupakan arti atribut yang paling penting, perkembangan kepribadian yang sehat adalah kepercayaan (trust). Pada tahap ini bayi sudah membangun rasa percaya kepada seseorang, baik orangtua ataupun orang yang mengasuhnya. Kesalahan dalam mengasuh atau merawat dapat menimbulkan rasa tidak percaya.

Erikson (1963) menggambarkan krisis perkembangan psikososial dari bayi seperti kepercayaan versus ketidak percayaan. Dia menjelaskan bahwa kualitas dari interaksi antara orangtua dan bayi menentukan perkembangan dari kepercayaan dan ketidakpercayaan. Orangtua yang memenuhi kebutuhan kehangatan, kenyamanan, cinta, perlindungan, dan makanan ketika bayi menyatakan peningkatan kebutuhan perasaan dari kepecayaan, sedangkan memenuhi kebutuhan bayi pada kesenangan diri mereka sendiri atau tidak pada semua perasaan untuk perkembangan dari ketidakpercayaan. (Erikson,1963)

Perawat menaksir ketersediaan dan kelayakan dari pengalaman membantu perkembangan psikososial. Rawat inap bagi bayi mungkin mempunyai kesulitan menetapkan batasan fisik karena mengulangi sensasi nyeri. Batas pengalaman negatif itu dan ketersediaan sensasi kesenangan adalah menghalangi dukungan pada awal perkembangan psikologi. Memperluas jarak dari orangtua akan menyulitkan proses penyaluran kasih sayang dan peningkatan angka atau jumlah dari perhatian. Idealnya orangtu harus memberikan banyak perhatian selam dirumah sakit.

2.2. Perkembangan Bayi Selama Masa Bayi

1) Bulan I

Motorik

Memilih posis fleksi dan pelvis tinggi tetapi lutut tidak dibawah abdomen bila telungkup (pada saat lahir,lutut fleksi di bawah abdomen). Dapat memutar kepala dari satu sisi ke sisi lain bila telungkup.Mengangkat kepala sebentar dari tempat tidur,.Mengalami head lag yang nyata, khususnya bila menarik kepala dari posisi berbaring ke poisi duduk .Menahan kepala sebentar secara pararel dan dalam garis tengah dan tertahan dalam posisi telungkup. Menunjukkan posis refleks leher tonik asimetris bila terlentang, bila menahan dalam posisi berdiri, tubuh lemas pada lutut dan panggul. Pada posisis duduk,punggung memutar secar bersamaan,tidak ada control kepala. Tangan tertutup secara umum. Refleks menggenggam kuat tangan mengatup pada kontak dengan mainan.

Sensori

Mampu memfiksasi objek bergerak dalam rentang 45 derajat bila digendong pada jarak 20 sampai 25 cm. ketajaman penglkihatan mendekati 20/100. Mengikuti sinar sampai garis tengah. Diam bila mendengar suara.

Vokalisasi

Menangis untuk mengekspresikan keyidak senangan. Membuat bunyi kecil dengan suara tenggorok. Membuat bunyi tenag selama makan.

Sosialisasi

Ada dalam fase sensorimotorik tahap I, penggunaanrefleks – refleks lahir (lahir sampai 1 bulan) , dan tahap II, reaksi sirkular utama (1 sampai 4 bulan). Memandang wqajah orang tua secara terus – menerus saat mereka bicara pada bayi.

2) Bulan II

Motorik

Menunjukkan posisi yang kurang fleksi bils telungkup-punggung datar,kaki terekstensi,lengan fleksi,kepala ke satu sisi. Head Lag berkurang bila menarikknya keposisi duduk. Dapat mempertahankan kepala dalam kesejajaran yang sam dengan posis tubuh yang lain ketika ditahan dalam suspensi ventral. Bila telungkup, dapat mengangkat kepala hamper 45 derajat dari meja. Bila digendong dalam posis duduk, kepala ditahan ke atas tetapi menunduk kedepan. Mununjukkan posisi reflek leher tonik asimetris secara intermiten. Tangan sering terbuka,Refleks menggenggam menghilang.

Sensori

Mulai memfiksasi binocular dan konvergen pada odjek dekat. Bila terlentang , mengikuti mainan yang tergangtung dari satu sisi ke titik garis tengah. Secara visual mencari untuk melokalisasi bunyi. Memutar kepala ke satu sis bila bunyii dibuat pada ketinggian telinga.

Vokalisasi

Bersuara, berbeda dari menangis ,tangisan menjadi berbeda, mendekut, bersuara pada wajah yang dikenal.

Sosialisasi

Menunjukkan senyum social sebgai respon terhadap berbagai stimulus.

3) Bulan III

Motorik

Mampu menahan kepala lebih tegak bila duduk, tetapi masih menunduk kedepan. Hanya sedikit mengalami head lag yaitu bila menarik kepala ke posisi duduk. Mendapatkan posisi tubuh simetrik. Mampu mengangkat kepala dan bahu dari posisi telungkup sampai sudt 45 -90 derajat dari meja, menahan berat badan pada lengan bawah. Bila digendong pada posis berdiri, mampu menahan sedikit fraksi beban berat badan pada kakinya. Memegang tangan sendiri. Secara aktif memegang mainan tetapi tidak akan menggapi mainan itu. Reflek menggenggam tidak ada. Tanga tetap tertutup rapat. Menggenggam tangan sendiri, menarik selimut atau pakaian.

Sensori

Mengikuti objek perifer (180 derajat). Melokalisasi bunyi dengan memalingkan kepala kesamping dan melihat kearah yang sama. Mulai mempunyai kemampuan untuk mengkoordinasikan rangsang dari berbagai organ indera

Vokalisasi

Menjerit keras untuk menunjukkan kesenangan. Mendengkur, menggumam, tertawa. Bersuara bila tersenyum, “bicara “ banyak hal bila diajak berbicara. Menangis berkurang selama periode terbangun.

Sosialisasi

Menunjukkan minat yang dapat dipertimbangkan terhadap sekitarnya. Berhenti menangis bila orang tua memasuki ruangan. Dapat mengenali wajah dan objek yang dikenal, seperti botol minum. Menunjukkan kewaspadaan terhadap situasi asing.

4) Bulan IV

Motorik

Hampir tidak mengalami head lag ketika menariknya ke posisi duduk. Keseimbangan kepala pada posisi duduk baik. Punggung sedikit melengkung, lengkung hanya dalam area lumbal. Mampu duduk tegak bila disangga. Mampu mengangkat kepala dan dada dari permukaan sampai sudut 90 derajat. Mengalami posisi simetri utama. Berguling dan telungkup ke posisi lain. Melihat dan mamainkan tangan , menarik pakaian atau selimut ke atas walah untuk bermain. Mencoba meraih objek dengan tangan tetapi melampaui. Menggenggam objek dengan kedua tangan. Bermain dengan mainan yang ditempatkan di tangan, mencarinya, tetapi tidak dapat mengambilnya bila dijatuhkan. Dapat memasukkan objek kemulut.

Sensori

Mampu mengakomodasi pada objek dekat. Penglihatan binocular cukup baik terbentuk.Dapat memfokuskan pada blok yang berada pada jarak 1,25 cm. Dimulainya koordinasi mata-tangan.

Vokalisasi

Mebuat bunyi – bunyi konsonan n, k, g, p, h. Tertawa keras,suara berubah sesuai alam perasaan.

Sosialisasi

Ada dalam tahap III , reasi sirkular sekunder. Menuntut perhatian dengan rewel, menjadi bosan jika ditinggal sendirian. Menikmati interaksi social denga orang. Mengantisi[asi pemberian makan bila melihat botol atau ibu bila menyusui dengam ASI, Menunjukkan kesenangan denga seluruh tubuh, menjerit, bernafas dengan keras. Menunjukkan minat dalam rangsang kuat. Mulai menunjukkan memori.

5) Bulan V

Motorik

Tidak ada had lag ketika menarik kepala untuk posisi duduk. Bila duduk, mampu menahan kepal tegak dan mantap. Mampu duduk untuk periode yang lebih lama bila punggung disokong denga baik punggung tegak. Bila telungkup, menunjukkan posis simetris dengan lengan ekstensi. Dapat membalik dari posisi telungkup ke terlentang. Bila terlentang,menempatkan kaki kemulut. Mampu menggenggam objek secara volunteer. Menggunakan genggaman telapak, pendekatan bidextrous. Memainkan jari – jari kaki. Mengambil objek secara langsung ke mulut. Memegang satu kotak sementara memperhatikan kotak lain.

Sensori

Secar visual mengikutu objek yang dijatuhkan. Mampu melanjutka inspeksi visual terhadap suatu objek. Dapat melokalisasi bunyi yang dibuat dibawah telinga.

Vokalisasi

Menjerit, membuat bunyi gumaman vocal yang diselingi dengan bunyi konsonan (misalnya, ah-goo)

Sosialisasi

Tersenyum pada bayangan dicermin. Memegang botol atau payadara dengan kedua tangan. Lebih antusias bermain, tetapi mungkin mengalami perubahan alam perasaan yang cepat. Mampu membedakan orang asing dari keluarga.Memvokalisasikan ketidaksenangan bila objek diambil. Menemukan bagian – bagian tubuh.

6) Bulan VI

Motorik

Bila telungkup, dapat mengangkat dada dan abdomen bagian atas dari meja, membebankan berat badan pada tangan. Bila akan menarik untuk posisi duduk , mengangkat kepala. Duduk pada kursi tinggi demham punggung tegak. Berguling dari telungkup ke terlentang. Bila digendong dalam posisi berdiri, membebankan hamper semua berat badan.memegang tangan tidak ada lagi. Mengamankan objek yang jatuh. Menjatuhkan satu kotak bila kotak lainnya diberikan. Menggenggam dan memanipulasi objek kecil. Memegang botol.

Sensori

Menyesuaikan postur untuk melihat objek. Lebih menyukai rangsang visual yang kompleks.Dapat melokalisasi bunyi yang dibuat diatas telinga.Akan memalingkan kepala pada sisi, kemudian melihat kebawah.

Vokalisasi

Mulai mengikuti bunyi – bunyian.Mengoceh menyerupai ungkapan satu suku kata – ma, mu, da, di, hi.Memvokalisasi terhadap mainan,bayangan cermin. Menikmati mendengarkan suara sendiri (penguatan diri).

Sosialisasi

Mengenali orang tua,mulai takut pada orang asing.Memegang tangan untuk mengambil. Mempunyai kesuklaan dan ketidaksukaan pasti. Mulai meniru (batuk,menjulurkan lidah). Senang mendengar langkah kaki. Tertawa bila kepala disembunyikan ke handuk. Mencari sejenak objek yang dijatuhkan(mulai menetapkan objek). Sering berubah alam perasaan dari senang menjadi tertawa dengan sedikit atau tanpa provokasi.

7) Bulan VII

Motorik

Bila terlentang, secara spontan mengangkat kepala dari meja. Duduk, menyandar ke depan dengan kedua tangan. Bila telungkup, membebankan berat badan pada satu tangan. Duduk tegak sebentar. Membebankan seluruh berat badan pada kaki. Bila digendong dalam posisi berdiri, meloncat secara aktif. Memindahkan objek dari satu tangan ke tangan lain. Mempunyai pendekatan unidextrous dan menggenggam. Memegang kedua kotak lebih dari sebentar. Membanting kotak ke meja, menggaruk pada objek kecil.

Sensori

Dapat memfiksasi objek yang sangat kecil. Berespon terhadap nama sendiri. Melokalisasi bunyi engan memalingkan kepala pada lengkungan. Mulai menyadari kedalaman dan ruang. Mempunyai kesukaan rasa.

Vokalisasi

Menghasilkan bunyi vocal dan menggabungka suku kata-baba,dada, kaka. Melokalisasi empat bunyi vocal berbeda. “Bicara” bila orang lain berbicara.

Sosialisasi

Meningkatkan rasa takut pada orang asing, menunjukkan tanda kekuatiran bila orangtua menghilang. Meniru tindakan dan bunyi sederhana. Mencoba untuk mencari perhatian dengan batuk atau mendengkur. Bermain cilukba. Menunjukkan ketidaksukaan makanan dengan mempertahankan bibir tetap tertutup. Menunjukkan keagresifan oral dalam menggigit dan mengunyah. Menunjukkan harapan dalam respons terhadap pengulangan rangsang.

8) Bulan VIII

Motorik

Duduk dengan mantap tanpa sokongan.Membebankan berat badan pada kaki dengan segera bila disokong, dapat berdiri berpegangan pada perabot. Menyesuaikan postur untuk meraih objek.Mulai menggenggam dengan menggunakan jari telunjuk, jari keempat, dan kelima terhadap bagian tungkai bawah.Melepaskan objek sesuai keinginan.Membunyikan bel dengan tujuan. Memegang dua kotak dan menginginkan kotak ketiga. Mengamankan objek dengan menarik. Meraih secara mantap mainan yang berada di luar jangkauan.

Vokalisasi

Membuat bunyi konsonan t, d, dan w,, mendengar secara selektif kata – kata yang dikenalnya. Mengungkapkan tanda penekanan dan emosi. Menggabungkan suku kata, seperti dada tetapi tidak menunjukkan artinya.

Sosialisasi

Meningkatkan ansietas terhadap kehilangan orang tua, terutama ibu, dan rasa takut terhadap orang asing. Berespon terhadap kata tidak. Tdak menyukai pakaian, penggantian popok.

9) Bulan IX

Motorik

Creeps on hands and knees.Duduk dengan mantap dilantai untuk waktu lama (10 menit). Mengatasi keseimbanganbila bersandar kedepan tetapi tidak dapat melakukannya bila bersandar ke samping. Menarik badan ke posisi berdiri dan berdiri berpegangan pada perabot.Menggunakan ibu jari dan jari elunjuk dalam menggenggam kasar. Menyukai menggunakan tangan yang dominan mulai terlihat. Menggenggam kotak ketiga , membandingkan dua kotak membawanya.

Sensori

Melokalisasi bunyi dengan memalingkan kepala secara diagonal dan secara diagonal dan secara langsung terhadap bunyi. Persepsi dalam meningkat.

Vokalisasi

Berespon terhadap perintah verbal sederhana, memahami “no – no”

Sosialisasi

Orang tua (biasanya ibu) makin penting untuk pencariannya. Menunjukkan peningkatan minat dalam menyenangkan orangtua. Mulai menunjukkan rasa takut terhadap pergi tidur dan menjadi sendiri. Menempatkan tangan di depan wajah untuk menghindari dicuci wajahnya.

10) Bulan X

Motorik

Mengubah dari telungkup menjadi duduk. Berdiri sementar memegang perabot, duduk dengan menjatuhkan diri. Melakukan keseimbangan dengan mudah pada saat duduk. Saat berdiri, mengangkat salah satu kaki untuk melangkah.Pelepasan sederhana terhadap suatu objek mulai. Menggenggam objek dengan tangan.

Vokalisasi

Mengatakan “dada”, “mama” dengan makna, memahami “daag-daag”, dapat mengatakan satu kata (misalkan: hai, daag, tidak)

Sosialisasi

Menghambat perilaku untuk perintah verbal dari tidak atau nama sendiri. Meniru ekspresi wajah, melambaikan untuk daag-daag. Menunjukkan mainan pada orang lain tetapi tidak akan memberikannya. Membangung objek permanent.

11) Bulan XI

Motorik

Bila duduk, berputar untuk meraih objek . Meluncur atau berjalan memeganga perabot atau dengan kedua tangan dipegang. Menjelajahi objek lebih seksama.Memiliki genggaman lebih erat . menjatuhkan objek dengan sengaja untuk mengambilnya. Menempatkan suatu objek setelah objek lain di dalam satu wadah.Mampu memanipulasi objek untuk memindahkannya dari penjepit paha yang erat.

Vokalisasi

Meniru bunyi pasti

Sosialisasi

Mengalami kesenangan dan kepuasan jika tidak dikuasai. Bertindak terhadap pembatasan dengan frustasi. Menggelindingkan bola pada orang lain sesuai permintaan. Mengantisipasi gerak irama pengasuh dikenal atau cerita diceritakan. Memainkan permainan ke atas ke bawah, “besar” atau cilukba. Menggelengkan kepala untuk tidak.

12) Bulan XII

Motorik

Berjalan dengan satu tangan dipegang, Meluncur dengan baik. Dapat berusaha untuk berdiri sejenak, dapat berusaha melangkah pertama sendiri. Dapat duduk dari posisi berdiri tanpa bantuan. Melepaskan kotak kedalam cangkir. Berusaha untuk membangun dua blok menara tetap gagal. Mencoba untuk memasukkan butir – butir ke dalam leher botol yang sempit tetapi gagal. Dapat membalikkan halaman buku, banyak dalam sekali waktu.

Sensori

Mendiskriminasi bentuk geometric sederhana. Ambliobia dapat terjadi dengan kurangnya binokularitas. Dapat mengikuti objek yang bergerak dengan cepat. Mengontrol dan menyesuaikan respons terhadap bunyi, mendengarkan bunyi berulang.

Vokalisasi

Mengatakan tiga sampai lima kata di samping “dada”, “mama”. Memahami makna beberapa kata. Mengenali objek berdasarkan nama. Meniru bunyi binatang. Memahami perintah verbal sederhana.

Sosialisasi

Menunjukkan emosi seperti cemburu, perasaan marah,takut. Menikmati lingkungan yang dikenal dan menggali dari orang tua. Rasa takut dalam situasi asing,memegang erat orang tua. Dapat mengembangkan kebiasaan “selimut keamanan” atau mainan favorit. Memiliki peningkatan penentuan untuk praktik keterampilan lokomotor. Mencari objek seolah – olah tidak disembunyikan, tetapi mencari dimana objek terlihat terakhir.

2.3 Persepsi dari Kesehatan

Dasar persepsi anak tentang status kesehatan mereka adalah diletakkan pada awal kehidupan. Sensasi dari dalam diri dan pengalaman dengan dunia luar mempengaruhi persepsi diri. Sebagai tambahan, karena bayi dan anak mengandalkan yang lainnya untuk pelayanan kesehatan mereka, pengalaman mereka dengan pehatian memberi pengaruh pada sikap dan tingkah laku kesehatan mereka. Perawat mwmpunyai tanggung jawab untuk mendidik orangtua dan memberikan perhatian yang lain tentang tingkah laku dalam peningkatan kesehatan yang akan memepengaruhi secara positif persepsi dari kesehatan dan diri.

Sebagai seorang perawat yang akan mengahadapi berbagai tipe orang harusnya kita bertindak sesuai dengan etik yang berlaku dan berpegang teguh pada kiat keperawatan (nursing art), yang diantaranya :

1. Caring artinya sebagai seorang perawat harus senantiasa memberikan perhatian pada klien.

2. Sharing artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau berdiskusi dengan kliennya.

3. Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat untuk meningkatkan rasa nyaman klien.

4. Crying artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan kliennya.

5. Touching artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis merupakan komunikasi simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994)

6. Helping artinya perawat siap membantu dengan asuhan keperawatannya

7. Believing in others artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat dan kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya.

8. Learning artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan keterampilannya.

9. Respecting artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain dengan menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak berhak mengetahuinya.

10. Listening artinya mau mendengar keluhan kliennya

11. Doing artinya melakukan pengkajian dan intervensi keperawatan serta mendokumentasikannya

12. Feeling artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan duka , senang, frustasi dan rasa puas klien.

13. Accepting artinya perawat harus dapat menerima dirinya sendiri sebelum menerima orang lain

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Ø Tahap perkembangan bicara bayi meliputi empat hal , yaitu : tangisan, ocehan, isyarat, dan ungkapan emosional.

Ø Kepercayaan dasar , berkembang ketika bayi belajar bahwa kebutuhan mendesaknya dipenuhi secara terus – menerus.

Ø Perkembangan motorik bayi mulai muncul sejak usia 6 minggu.

Ø Bayi belajar dari banyak pengalaman dan manipulasi lingkungan.

Ø Tahap percaya versus tidak percaya merupakan arti atribut yang paling penting, perkembangan kepribadian yang sehat adalah kepercayaan (trust).

Ø Perawat mempunyai tanggung jawab untuk mendidik orangtua dan memberikan perhatian yang lain tentang tingkah laku dalam peningkatan kesehatan yang akan memepengaruhi secara positif persepsi dari kesehatan dan diri.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock B., Elizabet , 1978 , Perkembangan Anak , Jakarta : Erlangga.

Sacharin, Rosa M., 1996 , Prinsip Keperawatan Pediatrik Jakarta : EGC

Wahab, A Samik ., Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta : EGC

Wong. Donna L., 2003 , Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik , Jakarta : EGC

Copyright 2009 RYRI LUMOET. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy | Blogger Templates